SINDO ACEH TIMUR - Relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) kembali menunjukkan dedikasi kemanusiaannya dengan menghadirkan layanan kesehatan dan psikososial bagi masyarakat terdampak banjir di daerah terisolir Kabupaten Aceh Timur. Melalui Tim Emergency Medical Team (EMT) dan Tim Psikososial, MDMC menjangkau wilayah-wilayah yang selama berbulan-bulan sulit diakses dan minim layanan kesehatan.
Layanan kemanusiaan ini telah dimulai sejak Sabtu, 9 Januari 2026, dengan Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, sebagai pos sentral relawan MDMC. Dari posko ini, tim kesehatan dan psikososial memberikan pelayanan secara berkelanjutan, baik melalui pos layanan tetap maupun layanan kesehatan mobile ke wilayah-wilayah terpencil. Sejak 9 Januari 2026, lebih dari 700 warga Kecamatan Indra Makmu dan Kecamatan Pante Bidari tercatat telah menerima layanan kesehatan serta pendampingan psikososial.
Tim Medis MDMC yang bertugas di Aceh Timur berjumlah 9 orang, terdiri dari tenaga kesehatan lintas keahlian guna memastikan layanan berjalan secara komprehensif. Tim ini dipimpin oleh dr. M. Irfan Rizaldy selaku Ketua Tim Medis, didukung oleh satu dokter spesialis kulit, dua dokter umum, empat perawat profesional, satu penata anestesi, serta dua apoteker. Seluruh personel berasal dari berbagai amal usaha dan institusi Muhammadiyah, di antaranya RS PKU Muhammadiyah Sleman, RS AMC, PKU Muhammadiyah Bantul, serta Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, dengan masa tugas selama 15 hari.
Perjuangan relawan MDMC terlihat jelas saat tim medis menembus Dusun Peulalu, Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, salah satu wilayah yang hingga kini masih tergolong terisolir. Ketua Tim Medis MDMC, dr. M. Irfan Rizaldy, yang juga berasal dari RS PKU Muhammadiyah Sleman, mengungkapkan bahwa perjalanan menuju lokasi menjadi tantangan tersendiri bagi tim.
“Untuk mencapai Dusun Peulalu, kami harus menempuh perjalanan sekitar empat jam menggunakan kendaraan roda empat gardan ganda. Setelah itu dilanjutkan dengan motor trail, dan masih harus berjalan kaki kurang lebih satu jam. Medannya berat, jalan berlumpur, dan beberapa titik nyaris tidak bisa dilalui. Namun semua itu kami jalani karena masyarakat di sana sangat membutuhkan layanan kesehatan,” ungkap dr. Irfan.
Di Dusun Peulalu, sekitar 50 kepala keluarga masih bertahan di hunian darurat akibat rumah yang rusak parah pascabencana. Selama kurang lebih satu setengah bulan, warga belum mendapatkan layanan medis yang memadai. Kehadiran tim MDMC menjadi harapan baru bagi masyarakat. Sebanyak 63 warga berhasil dilayani, termasuk penanganan kasus dehidrasi berat dengan pemasangan infus, bahkan seorang lansia berusia lebih dari 100 tahun yang hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur.
Selain layanan kesehatan fisik, relawan MDMC juga memberikan layanan psikososial untuk membantu pemulihan kondisi mental dan emosional masyarakat terdampak. Anak-anak, lansia, serta warga yang mengalami tekanan psikologis mendapatkan pendampingan agar kembali memiliki semangat dan daya tahan dalam menghadapi situasi pascabencana.
Camat Indra Makmu, Irwansyah, menyampaikan rasa haru dan kebahagiaannya atas kehadiran relawan MDMC Muhammadiyah di wilayahnya. Ia mengapresiasi ketangguhan serta konsistensi relawan yang tetap hadir meski dihadapkan pada medan berat dan keterbatasan fasilitas.
“Kami sangat bersyukur dan terharu. Kehadiran MDMC benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kami, khususnya di wilayah terisolir,” ujarnya.
Sementara itu, Romi Syahputra, Keuchik Desa Alue Ie Mirah, menyampaikan terima kasih yang mendalam atas dedikasi MDMC yang telah menjadikan desanya sebagai pos sentral relawan.
“Atas nama pemerintah desa dan seluruh warga, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Relawan MDMC hadir sebagai penolong sekaligus saudara di tengah musibah,” tuturnya.
Sebagai bentuk komitmen keberlanjutan layanan, MDMC juga merencanakan pertukaran tim medis pada 19 Januari 2026, agar pelayanan kesehatan dan psikososial dapat terus berjalan secara optimal hingga kondisi masyarakat terdampak benar-benar pulih.
Di sisi lain, dukungan relawan MDMC terus diperkuat dari berbagai daerah. Relawan MDMC Muhammadiyah Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) turut bergabung dalam rangkaian aksi kemanusiaan di Aceh. Sebelumnya, pada 10–11 Januari 2026, mereka telah terlibat dalam penyediaan sarana air bersih dengan melakukan pengurasan sumur warga di Kabupaten Aceh Utara, Kecamatan Muara Batu, sebagai bagian dari upaya pemulihan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana.
Aksi kemanusiaan relawan MDMC Muhammadiyah di Aceh Timur dan wilayah sekitarnya ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kemanusiaan, keikhlasan, dan gotong royong terus hidup, menembus keterisolasian demi memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari layanan dan harapan pemulihan.
Sumber Pengurus MDMC Muhammadiyah, Amir. (KS Hambaly Ama La Beby)



0 Komentar