SINDO BIMA - Melalui Global Civilizational and Intercultural Immersion Program (GCIIP) 2026, STKIP Taman Siswa Bima bersama Kantor Urusan Internasional (KUI) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menghadirkan praktik nyata internasionalisasi pendidikan tinggi yang hidup, membumi, dan sarat makna. Program internasional yang berlangsung selama 5 hari (11–15 Januari 2026) ini bukan sekadar agenda akademik. Melainkan sebuah immersive intercultural experience yang mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari Yaman, Sudan, Nigeria, Ghana, Bangladesh, Tiongkok, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat, dalam ruang dialog lintas budaya, lintas iman, dan lintas peradaban.
Komitmen Total dan Mimpi Besar dari Bima
Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Assoc. Prof. H. Ibnu Khaldun, M.Si, menyampaikan kebanggaannya atas kehadiran para tamu internasional. “Kami sangat bangga menerima mahasiswa dari berbagai negara, dengan latar budaya dan agama yang beragam. Ini adalah wajah Bima yang ramah, terbuka, dan beradab,” ujarnya, saat menyambut peserta di Kampus 2, Minggu (11/1/2026).
Ia menegaskan komitmen institusi dengan membiayai seluruh rangkaian kegiatan secara penuh. “Ini adalah komitmen Taman Siswa Bima. Bima mungkin daerah kecil, tetapi di dalamnya ada kampus dengan mimpi yang sangat besar,” tegasnya. Ia juga memastikan bahwa GCIIP akan kembali dilaksanakan tahun depan di Mataram, sebagai bagian dari kesinambungan program.
Sementara itu, Asbah, M.Hum, Kepala KUI UMMAT, menyebut GCIIP sebagai cambuk penyemangat bagi kampus-kampus di Bima dan Dompu untuk meningkatkan standar internasionalisasi. “Dunia harus tahu bahwa NTB tidak hanya Lombok atau Mataram, tetapi juga Bima. Taman Siswa adalah kampus pertama di kawasan ini, bahkan di Sumbawa, yang menyelenggarakan program internasional seperti ini,” ujarnya.
Ia berpesan kepada mahasiswa internasional agar membawa cerita tentang Bima ke negara asal mereka. “Sampaikan kepada dunia, inilah Bima, kota yang sangat ramah dan kental dengan nilai-nilai Islamnya, namun tetap terbuka dan menghargai perbedaan,” katanya, menegaskan semangat inklusivitas GCIIP, termasuk bagi peserta yang berlatar belakang non-Muslim.
Ketua Pelaksana GCIIP 2026, Ika Suciwati, M.TESOL, menjelaskan bahwa desain kegiatan disusun dengan pendekatan experiential learning dan intercultural engagement. “GCIIP tidak ingin berhenti pada seremoni. Kami merancang kegiatan yang memungkinkan peserta mengalami langsung nilai-nilai lokal, sistem peradaban, serta praktik pendidikan Indonesia dalam konteks global,” ujarnya.
Dari Literasi Global hingga Jejak Kesultanan Bima
Hari pertama GCIIP dibuka dengan Global Literacy and Sports Sharing (GLASS Day) di ruang publik, Amahami Kota Bima, NTB. Sebuah simbol keterbukaan kampus terhadap masyarakat global dan lokal. Interaksi lintas bangsa terjadi secara alami di area rekreasi akhir pekan itu. Oleh panitia, ruang Interaksi tersebut dimediasi melalui lapak literasi LABABA dan juga pemeriksaan kesehatan gratis. Kemudian peserta diajak mengunjungi Kampus 2 STKIP Taman Siswa Bima dan menelusuri Museum Samparaja, pusat sejarah Kesultanan Bima yang merekam nilai kepemimpinan, Islam, dan peradaban Mbojo.
Di hari kedua, aktivitas berlanjut dengan desain school visit ke SMAN 1 Kota Bima dan sejumlah SMA di Kabupaten Bima. Di ruang-ruang kelas inilah nantinya dialog global berlangsung tanpa sekat. Ketika siswa lokal berdiskusi langsung dengan mahasiswa internasional. Kunjungan ke Museum ASI Mbojo semakin memperkaya pemahaman peserta tentang artefak, nilai, dan identitas kebudayaan Bima.
Forum Internasional dan Aksi Global Berbasis Lokal
Puncak akademik GCIIP hadir pada hari ketiga melalui Global Intercultural Higher Education Forum (GIHEF) 2026, sebuah seminar internasional bertema Advancing Internationalization through Intercultural Understanding in Higher Education for Meaningful Local and Global Impact. Forum ini mempertemukan gagasan global dengan praktik lokal, menegaskan bahwa internasionalisasi tidak selalu harus berangkat dari kota besar. Pembicara kunci yang dihadirkan, Mr. Abdullah A Safi (Australian International Center for Training and Education, Melbourne Australia), Mr. Thomas Harding (Representative Arab Lombok International Friendship, Victoria Australia), Mr. SK Shahin Hossain (Asian Institute of Technology, Thailand), Dr. Ravindra Jadhav (K.J. Somaiya College of Arts,. Commerce and Science, Kopargaon, Maharashtra State, India),
Ida Puspita, S.S., M.A. Res. (Lecturer, Assistant Professor, English Literature Study Program, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) – Yogyakarta, Indonesia), dan Ika Suciwati, M.TSOL (STKIP Taman Siswa Bima, NTB, Indonesia)
Hari keempat menjadi wujud konkret global citizenship melalui aksi bersih pantai (beach cleaning) di Pantai Amahami, diikuti dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara perguruan tinggi swasta di wilayah Bima–Dompu dan Rektor UMMAT. Dialog kebudayaan bersama Tim La Rimpu, yang dipandu Prof. Atun Wardatun dan Prof. Abdul Wahid, menjadi ruang refleksi tentang perempuan, budaya, dan identitas Islam lokal dalam perspektif global.
Rangkaian GCIIP ditutup dengan pameran budaya lokal dan pementasan seni pada hari kelima. Berbagai ekspresi budaya menjadi bahasa universal yang mempertemukan perbedaan tanpa perlu diterjemahkan. (KS Tim)



0 Komentar